sedikit cerita tentang negeriku

Konon katanya negeri tempat aku lahir ini sangat amat kaya, meski belakangan aku baru tahu setiap jiwa yang bermukim di atasnya (yang kalau menurut prediksi BPS bakal menjadi 231 juta jiwa tahun ini) ‘harus’ berpartisipasi minimal sebesar 5 juta rupiah untuk dapat membantu melunasi hutangnya. wew! Silakan hitung sendiri ajah totalnya, aku sih males

Konon pula negeri ini adalah negeri yang ramah dan bertatakrama, sampai akhirnya aku melihat tawuran sesama mahasiswa, demonstrasi berdarah, pun senioritas yang menghilangkan nyawa. Ah.., begitukah cara bersapa dan bercengkrama?

iseng sajah

“u dun even luv me, rite?” the woman whispers.
No answer from the man, but he hold her hands tightly.
“cmon hon, just answer me!”
He stares at her eyes, so close to her face.
“listen, I dun wanna judge our relationship. I enjoy wat we’ve now”

is it a poem?

dia berdiri di tepi jalan
dengan sebatang rokok menyala terselip di antara jarinya
dibalik kacamata tebal hitamnya
dia memandang lurus ke seberang
entah pada pasangan yang tengah berciuman meski tau mereka di halte bis
atau pada lelaki tua pemulung berpakaian kumuh yang berjalan terseok
dia menarik kedua sudut bibirnya
menghadirkan sebuah senyum
sinis!

dihisapnya si rokok kini
dalam...