tentang kado yang aku berikan tapi kemudian aku pinjam


Dia satu-satunya ‘sosok i’ yang masih bisa ku lihat, masih bisa ku dengar langsung suaranya, masih bisa ku jabat tangannya. Aku menyebutnya ‘Yang Mulia’:) lebih karena dia merasa pantas memperlakukanku bak seorang ‘Putri’. Tidak banyak waktu yang diperlukannya untuk menjadi bagian dari memoar kehidupanku. Yah…, he’s got all my sympathy. Dulu, sekarang, mungkin juga nanti.

sosok-sosok 'i'

Mereka meresahkanku
Membingungkan
Membuyarkan tenang
Membakarku dalam cemburu
Membius hilang batas sadar
Membanjiriku emosi
Yah…
Merekalah yang secara tak terduga mendominasi dasawarsa hidupku, yang secara beruntun memaksaku memasuki dimensi baru dalam dunia semu. Dunia yang menjanjikan manisnya tawa, sedapnya tangis, enaknya pahit, hanya dengan menghabiskan waktu bersama mereka. Dunia yang mewarna-warni, merah-biru malam, kuning-jingga pagi, juga pelangi siang hari. Dunia bernama cinta, katanya!

Dan aku…

when have to choose

These two days, I felt awful. not because I’d to prepare things 4 my promotion job which forced me to go here n there, in n out office to office, or early go n home late. It started when the big boss asked me to work in the head office regency. I’m honor at first. They thought, I would work better if I joined them. They also told me about the prestige, n the nicely things. But….

When I sat behind my desk, the desk which had accompanied me 4 few years. Touched the filling cabinet where I put all my stuff. Played Hangoroo in the notebook n looked around the room, I couldn’t describe what I felt deep inside.
Then I remembered eM, how I really want 2b in his class at Ungaran or Surabaya. The others name: Teh Ita, Cak Upik, K Fauzi, Bang Ibad, P Agus, P Er, P Faizal, P Isma, P Dede, Mr. Ozank. God! How could I 4get them?