Tentang Hijab

"Sudah insyaf lu?," komentar pertama seorang rekan. "Cieee, yang dapet hidayah," lupa siapa yang ngomong gini. "Apik non, mudah-mudahan cepet dapet jodoh," senior di Kantor yang bikin aku ber-lhoo..? "Waaahh, neng lah, pake terus yah, ibu dukung..., bagus koq," yang ini dari ibu di sebelah meja yang notabene istrinya Wabup kota ini. Siapapun boleh berkomentar, positif pun negatif. Dan kepada apapun yang mereka ucapkan aku hanya bilang "belajar…". Aahh, a bit late sebenarnya malah. Ini pun masih yang mini. Thus, I really no need to be proud about it. It’s an obligation. It’s an identity.
Tidak berarti 180° aku berubah. Tidak berarti aku muslim yang baik sudah. Tapi yah, aku akan belajar dan selalu… Sebagaimana kaupun pernah berkata “Yang penting pake dulu, biar dia yang mencegahmu dari berperilaku yang tidak patut”

A Peaceful Sunday

It's not about my spicy spaghetti which magically my mom liked it. oh well yeah, need to be explained here, that my mom is a marvelous chef at home, thus why it's really worthy to find she loved my handmade hehe..
It's about what i felt deep down inside. Sequentially, losing of money in the early new year, grandmother's died, broken relationship,and losing of my blackberry by the end of January, really devastating. It's different today. Having

Bali: Untold Story



Pernah merasa sesak yang sangat, yang membuatmu ingin berlari jauh dan menggila? Atau kelelahan pada kenyataan yang seakan tak kunjung berpihak? Atau sekedar melakukan sesuatu yang kamu sendiri gak tau buat apa atau kenapa?
Karena inilah yang kulakukan beberapa pekan silam..

Tepat jam 5 sore, aku tiba di Ngurah Rai Airport, tanpa tau mau kemana dan menghubungi siapa. Iya, aku punya beberapa teman di kota ini, Bli Agus Wirama, Ni Ayu, Miss Lucia, atau Mr. Jeetendra, tapi tidak… kunjunganku tidak dalam rangka untuk merepotkan mereka. Jadi yang kulakukan setelah tiba adalah menuju Starbuck yang demikian dekatnya dari pintu keluar kedatangan. Memesan secangkir green tea frappacino