Elegi Senja

Apa kabarmu hari ini?
Masihkah ikal rambutmu teracak?
Masihkah kacamatamu bertengger di tempat seharusnya?
Akan halnya diriku, aku sedang takut
Aku mengingatmu meski mungkin kau tidak
Aku merindumu meski mungkin kau tidak
Dan aku….
menua!

Sekali Lagi Catatan tentang Negeri


"Bu, ibu pilih Bapak nomer *cencored* kan? kan kita dah dikasih duwit"
kalimat itu aku dengar kemarin, saat berniat berangkat ke te-pe-es, dari seorang bocah usia 6 tahunan yang tepat berada di depanku. Ibu anak itu sedikit terperangah tapi tak urung tersenyum padaku sembari bertanya: "dapet juga, mbak?"
Aku menggeleng, dan setelah berbasa-basi sebentar, putar haluan, kembali ke rumah, kembali ke kamar, kembali ke laptop.

Ironis!
Harusnya kejadian itu gak berlangsung di depanku, aku yang memang sudah sangat apatis terhadap penyelenggaraan pemilu. Yang sudah skeptis terhadap orang-orang yang melakukan apapun untuk jadi nomer satu. Sampai kapan begini?

sedikit cerita tentang negeriku

Konon katanya negeri tempat aku lahir ini sangat amat kaya, meski belakangan aku baru tahu setiap jiwa yang bermukim di atasnya (yang kalau menurut prediksi BPS bakal menjadi 231 juta jiwa tahun ini) ‘harus’ berpartisipasi minimal sebesar 5 juta rupiah untuk dapat membantu melunasi hutangnya. wew! Silakan hitung sendiri ajah totalnya, aku sih males

Konon pula negeri ini adalah negeri yang ramah dan bertatakrama, sampai akhirnya aku melihat tawuran sesama mahasiswa, demonstrasi berdarah, pun senioritas yang menghilangkan nyawa. Ah.., begitukah cara bersapa dan bercengkrama?